Coba luangkan waktu sejenak dan ketik nama sungai-sungai besar di Indonesia, sebut saja "Sungai Brantas", di mesin pencari Anda. Apa yang pertama kali muncul di layar? Hampir bisa dipastikan, algoritma akan menyuguhkan deretan berita tentang tumpukan sampah, pencemaran limbah industri, hingga gelar tragis sebagai "sungai dengan kandungan mikroplastik tertinggi di Indonesia".
Kita seakan hidup di era di mana banyak pihak mulai dari individu hingga lembaga berlomba-lomba mencari dan mengekspos keburukan sungai. Sungai yang diam, mengalir tanpa bisa membela diri, terus-menerus menjadi sasaran empuk untuk disalahkan atas segala krisis lingkungan dan tata ruang kita. Padahal, mari kita mundur sejenak dan melihat sejarah. Sungai-sungai inilah yang menjadi tulang punggung peradaban, sumber air utama, dan urat nadi perekonomian di Jawa Timur dan seluruh nusantara selama ribuan tahun.
Mengapa narasi kita tentang sungai menjadi begitu gelap dan melelahkan?
Jawabannya terletak pada kacamata yang kita pakai. Selama ini, gerakan konservasi dan pemberitaan terlalu terjebak pada pendekatan Problem-Based Oriented (Berorientasi pada Masalah). Kacamata ini memaksa kita untuk terus melihat apa yang salah, apa yang rusak, dan apa yang kurang.
Dalam teori sosiologi dan pengembangan masyarakat, terus-menerus mengorek masalah adalah pekerjaan yang sangat menguras energi. Ketika fokus utama adalah masalah, psikologi manusia secara otomatis akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Pemerintah menyalahkan warga yang membuang sampah, warga menyalahkan pabrik, pabrik menyalahkan infrastruktur. Ujung-ujungnya? Kebuntuan dan rasa apatis massal.
Kini saatnya kita memutar lensa dan mengadopsi paradigma baru: Asset-Based Community Development (ABCD) atau pendekatan yang berorientasi pada potensi.
Teori ABCD yang digagas oleh John Kretzmann dan John McKnight membuktikan sebuah fakta sederhana namun revolusioner: Jauh lebih mudah, efektif, dan berkelanjutan untuk membangun suatu ekosistem dengan berfokus pada apa yang mereka miliki (potensi/aset), dibandingkan berkutat pada apa yang tidak mereka miliki (defisit/masalah).
Ketika kita melihat sungai dari kacamata potensi, kita tidak lagi melihat air keruh, melainkan kita melihat nilai ekonomi sirkular dari mata air, nilai sosial dari komunitas bantaran, hingga nilai cagar budaya dari jejak sejarah peradaban masa lalu.
Secara politis dan psikologis, manusia lebih suka dilibatkan dalam sebuah proyek "harapan" daripada proyek "rasa bersalah". Jika kita terus meneriakkan masalah, orang akan defensif dan menjauh. Namun, jika kita menawarkan potensi, orang dan lembaga akan dengan sukarela berebut peran untuk berkolaborasi. Mengapa? Karena di dalam potensi, ada nilai kebermanfaatan baik itu nilai sosial, kelestarian, maupun perputaran ekonomi yang bisa dinikmati bersama.
Mari kita ubah cara pandang kita mulai hari ini.
Berhentilah melihat sungai sebagai tempat pembuangan akhir raksasa, atau sekadar subjek penderita yang pantas disalahkan. Sungai adalah harta karun ekologis. Ia adalah warisan leluhur nusantara yang telah dijaga melintasi berbagai zaman, yang di dalamnya tersimpan kunci kesejahteraan kita hari ini.
Tugas kita sekarang bukan sekadar menghitung jumlah sampah yang mengapung di permukaannya, melainkan menghidupkan kembali potensinya. Mari berhenti saling menuding. Mari tatap sungai kita dengan penuh rasa hormat, kembangkan potensinya, dan pastikan harta karun ini terus mengalirkan kehidupan untuk anak cucu kita di masa depan.

0Komentar