Sayangnya, transisi menuju gerakan yang sistematis itu masih sering tersendat oleh sebuah problematika klasik di lapangan. Jujur saja, kita memang sudah sangat ahli, militan, dan tak kenal lelah kalau urusan aksi bersih-bersih sungai atau menanam bibit pohon. Tapi begitu bicara soal pendataan, antusiasme itu sering kali mendadak surut. Sangat sedikit inisiatif gerakan yang meluangkan waktu untuk mengukur seberapa besar impact atau dampak nyata dari aksi tersebut, apalagi sampai menyentuh ranah forecasting untuk memproyeksikan nasib kawasan tersebut di masa depan. Padahal, tanpa pendataan yang terukur, pengabdian kita rawan menjadi rutinitas sesaat yang jalan di tempat tanpa arah pengembangan yang jelas.
Di sinilah kita sangat membutuhkan kehadiran sebuah ekosistem data yang hidup. Konsepnya bukan sekadar mengumpulkan angka-angka di akhir kegiatan sebagai formalitas laporan belaka. Lebih dari itu, data harus bertransformasi menjadi "kemudi" yang men-drive dan mengendalikan setiap aksi kita, mulai dari identifikasi masalah di tahap paling awal, hingga merancang intervensi jangka panjang yang berkelanjutan. Ekosistem ini juga menuntut adanya budaya berbagi informasi. Jadi, yang kita bagikan nantinya bukanlah tumpukan data mentah tentang seberapa banyak sampah yang diangkut kemarin, melainkan sebuah narasi besar mengenai rencana jangka panjang, pemetaan potensi, dan strategi aksi kolektif ke depan.
Mari kita ambil contoh yang sangat dekat dengan denyut nadi kita: pelestarian sungai. Selama ini, perbincangan atau publikasi data mengenai sungai-sungai di Nusantara sering kali masih sangat parsial, misalnya hanya berkutat pada isu temuan mikroplastik atau fluktuasi debit air. Untuk melangkah lebih jauh, kita sangat membutuhkan sebuah Bank Data Sungai Nusantara yang komprehensif. Bayangkan sebuah pangkalan data terpusat yang merangkum semuanya secara utuh—mulai dari akar sejarah dan budaya sungainya, karakteristik sosiologis masyarakat di bantarannya, hingga potensi ekonomi sirkular dan pariwisata yang bisa dikembangkan secara kolaboratif. Dengan kacamata data yang seluas ini, sungai tidak lagi sekadar dilihat sebagai masalah yang harus dibersihkan, melainkan sebagai satu kesatuan ekosistem yang berpotensi menghidupi.
Tentu saja, mewujudkan visi sebesar ini mustahil terjadi jika kita masih memakai mindset lama yang selalu menempatkan pemerintah sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab—dan ujung-ujungnya paling gampang dijadikan korban untuk disalahkan. Membangun ekosistem data lingkungan yang utuh adalah kewajiban mutlak kita bersama. Jadi, bukankah ini saat yang tepat bagi kita semua untuk mulai terbuka dan mempublikasikan data serta wawasan yang kita miliki? Mengajak berbagai pihak untuk membentuk konsorsium Bank Data Sungai Nusantara, atau bahkan mewujudkannya dalam satu website keren terintegrasi seperti sungainusantara.id, rasanya adalah sebuah ide brilian yang patut segera dieksekusi. Ini adalah sebuah ajakan terbuka; mari pastikan niat baik kita dalam mengabdi tidak hanya berhenti pada keringat yang menetes, tetapi berlanjut pada dampak yang terukur, lestari, dan membumi.
0Komentar